Monday, 8 September 2014

Ketika Lensa Manual Kini menjadi Primadona

          Lensa manual, jika tedengar di telinga yah memang lensa ini menggunakan focus manually oleh pengguna kamera itu sendiri. Beberapa orang menganggap lensa ini biasa saja namun bagi yang sudah teracuni alias suka dan cinta pada lensa ini lain cerita. Dahulu tahun 2009 lensa pertama yang saya miliki adalah Pentacon 50mm f1.8 yang sudah di oprek ke mounting nikon agar dapat saya gunakan di Nikon D70 saya. 

          Memang nyatanya lensa manual punya khas nya sendiri jika di banding dengan lensa AF dan harga yang di tawarkan pun beragam. Pengguna diberikan range memilih lensa yang sesuai dengan kantongnya. Namun kini di tahun 2014 Lensa manual kian mainstream dan tidak tanggung-tanggung harga lensa kini naik 200%. Coba bayangkan kadang harganya tidak rasional lagi untuk. Bukan bermaksud menyinggung pengguna manual lainnya maupun pedagang lainnya (karena saya juga pengguna dan pedagang) hehehe.

         Namun hanya pendapat saya sendiri saja ingin sekali harga lensa manual kembali stabil seperti dahulu. Namun mungkin ini yang dinamakan hukum ekonomi. Semakin banyak permintaan dengan penawaran yang sedikit maka harga otomatis jadi meningkat. Tapi kita nikmati saja trend yang sedang terjadi hingga tahun depan dan lihat perubahan trendnya seperti apa , berharap harganya turun kembali. xixixixi (edisi nambah dry box)

Terlepas dari itu semua salam damai untuk semua pengguna lensa manual. Salam manual Lens. :D

Saturday, 30 August 2014

Dataran Tinggi Dieng

     Perjalanan saya kali ini sebenarnya hanya kebetulan semata. Kebetulan yang berakhir manis. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Om Iwa, Om Hartono, Om Abdul Salam, Om Jono, Om Aldo serta kawan-kawan rombongan LM Jakarta. Sebuah kesempatan yang luar biasa saya mendapatkan tumpangan kembali ke Bandung dari Semarang Via Dieng. Layaknya Show time dalam satu jadwal kesempatan. Trimakasih.

Dieng Plateu

          Dieng dataran tinggi yang begitu indah dan sangat pantas untuk di kunjungi lebih dari sekali. Lokasi yang menawan dengan Landscape yang patut di acungi jempol membuat daerah ini menjadi luar biasa. Seandainya memiliki waktu lebih dari sehari. Luar biasa sekali tempat ini.

Pagi itu sangat cerah


           Asap kawah yang masih mengepul, kumpulan awan di langit biru menambah lengkap suasana pagi dingin kala itu. Saya merasa pulang ke kampung halaman. dengan suasana pedesaan yang sudah lama saya nantikan dan ingin saya rasakan kembali. Pegunungan dan pepohonan hijau memberi makna tersendiri dalam kesejukan yang hanya saya fahami sendiri.  Sebenarnya ada banyak situs candi sepanjang jalan menuju tempat ini namun karena waktu kami terbatas kami hanya mengunjungi obyek yang mudah kami jangkau tanpa mengurangi makna dari kunjungan ini.

Mentari menyambut kami di kala itu.





       Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.  Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Yah saya rasa sangat cocok nama lokasi ini Dieng karena memang getaran alamnya berbeda. Punya sesuatu yang spesial yang mungkin pada masa dahulu tertua dan leluhur kita meletakkan sesuatu yang berharga disini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dan dapat kita nikmati hingga kini.


"Terkadang hal yang luar biasa terlahir oleh : Ketidaksengajaan"
         Pantas saja ketika itu suhu di Dieng lumayan menusuk kulit ternyata mendekati bulan Juni. Dieng layaknya Lembang di Bandung dengan suhu dinginnya yang memberikan sedikit kesejukan dan pelarian akan apa yang kita hadapi sehari-hari sebagai beban kerja dan melepaskan penat disini. Tempat yang sangat wajib untuk anda kunjungi jika anda memiliki Waktu luang ketika jadwal liburan anda masih kosong.

Ketika rokok menjadi pelarian dingin


            Saya tahu rokok tidak baik untuk kesehatan dan hampir semua orang tahu itu meski bungkus rokok sudah di tuliskan dengan panjang lebar : "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, IMPOTENSI dll" ,mungkin bapak penjual masker ini tidak tahan akan dinginnya pagi dan merokok menjadi rutinitas beliau, namun yah kita kembali ke individu masing-masing saja. Oleh karena hal tersebut maka saya pesan POP Mie sebagai penghangat tubuh di pagi itu. Sebenarnya saya ingin sekali berlama-lama di tempat ini apa daya Waktu menjadi pembatas. hahaha. Maka di tempat ini kami hanya menghabiskan waktu kurang lebih sejam dan kembali mengitari Dataran tinggi Dieng untuk berkunjung ke Lokasi Lain.



Danau Tiga Warna

      Dana Tiga Warna atau Telaga Warna, entah saya harus menyebutnya bagaimana karena saya tidak mengetahui secara pasti dan merupakan kali pertamanya saya ke tempat ini. Telaga = Kolam yah memang benar ini adalah kolam besar yang elok dan indah sekali untuk anda pandangi. Inilah ciptaaan Tuhan yang nyata dengan segala keindahannya.
Jalan Menuju Telaga Warna

Yah Plang Masuknya.. hahaha

  Entah apa yang menyebabkan tempat ini mendapat julukan telaga warna, semua pasti ada asal usulnya. Mungkin ini kawah gunung vulkanik yang masih mengandung belerang atau zat sejenis yang menyebabkan telaga ini berwana, saya bukanlah ahli kimia, hanya menyimpulkan pikiran pribadi saya saja sebagai seorang tekniksi. Masuk ketempat ini saya merasakan sesuatu yang berbeda, ada sebuah dimensi alam berbeda di tempat ini dan saya rasakan sekali. Ini hanya perasaan saya saja jangan terlalu di tanggapi lebih jauh namun jika ada orang asli Dieng mungkin bisa menjelaskan lebih jauh. Tapi saya merasa yakin tempat ini memiliki koneksi erat dengan dimensi lain selain dimensi kita. 

Telaga Warna

Tiga serangkai kayu

Terbenam dalam aliranmu

         Terkadang kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan tempat ini, saya tidak tahu mesti mengawali dan mengakhirinya dari mana, namun hanya satu yang bisa saya gambarkan. Kenyamanan saya temuakn disini. Take nothing but pictures, Leave nothing but Footprints. Maka hanya gambar yang akan mewakili saya pernah berada di tempat ini sebagai oleh-oleh untuk saya nikmati di kemudia hari ketika merindukannya.

Narsis dulu


       Bukan laki-laki namanya jika tidak mengejar rumor yang beredar di masyarakat, satu rombongan kami ber 9 orang yang isinya adalah laki-laki semua. Sudah pasti yang di kejar adalah rumor tentang "Purwaceng" yang merupakan minuman stamina khas Dieng. Saya bahkan baru kali ini mendengarnya, biarlah para sesepuh yang menelusuri benda ini melalui meditasi mereka memasuki toko-toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan Dieng. Dan alhasil abrakadabra kami menemukannya. Eh mereka, hahhahaha karena saya hanya menjadi seksi dokumentasi mengabadikan transaksi para sepuh membeli Purwaceng ini. 

Sesepuh membeli oleh-oleh khas dieng : Purwaceng


Dieng, suatu ketika aku akan kembali kesini dengan semangat berbeda dan berharap banyak hal baru yang bisa saya dapatkan di tempat ini. Salam

Friday, 29 August 2014

Jalan - Jalan ke Semarang

Kuil Sanpokong Semarang
 

       Dari dulu hobby saya memang jalan-jalan, mendakin dan mengumpulkan pernak-pernik aneh. Asalkan dapat berpergian ke luar kota senangnya bukan main. Kesempatan kali ini saya mengunjungi Kota semarang. Yah benar Kota ini terletak di Jawa tengah. Sebenarnya kunjungan saya ke semarang tidak serta merta hanya untuk jalan-jalan semata, namun untuk mengemban tugas mulia (alah tugas mulia hahahaha). Dalam rangka Ulang tahun komunitas Lensa Manual se-Indonesia(biar keliatan serem). Sebenarnya saya kesemarang ingin menggunakan sarana Transportasi Bus karena dari review dan tanya-tanya kawan yang dari semarang menggunakan Bus jauh lebih nyaman dan murah di bandingkan kereta, namun konsekuensinya saya harus berangkat sendirian. Setelah berdiskusi dengan Ibu Negara (read:pacar) akhirnya dia tidak memperbolehkan saya pergi menggunakan bus, disamping memperoleh ijin darinya yang sangat sulit maka saya harus mengikuti syaratnya untuk boleh bepergian ke Semarang harus ditemani kawan. Beberapa minggu sebelum hari-H saya masih bimbang, kemudian saya kontak Kang Ujang Ubed yang merupakan sesepuh Lensa Manual Chapter Bandung, beliau ingin menggunakan Kereta Api dan karena ini kali pertamanya saya menggunakan kereta api saya meminta bantuan beliau untuk memesan tiket.


"Kota Itu Bernama SEMARANG".................................................


          Dan singkat cerita sampailah pada tanggal keberangkatan untuk ke semarang , tanggal 16 Mei 2014 kami berdua (Saya dan Kang Ujang) bertemu di stasiun bandung di daerah kebun kawung dengan jadwal keberangkatan kereta 21.35 WIB. Harga tiket kereta saat itu Rp 240.000,- mengingat kita memesan tiket 1 minggu sebelum keberangkatan dan alhasil harganya pun melonjak. Okeh back to main topic. Setelah menunggu kurang lebih stengah jam sambil mengunyah roti bekal kita masing-masing terdengar suara pengumuman di TOA stasiun bahwa kereta Herlina tujuan Semarang segera di berangkatkan. Kami bergegas ke kereta dan masuk ke gerbong 2 dengan no kursi 15A dan 15B. Menaruh barang bawaan dan melanjutkan santapan roti kami. Pramuniaga kereta menawarkan bantal tidur seharga Rp 5000 untuk di sewakan kami berdua memesannya.
Tiket Kereta Api
           

       Untuk membunuh waktu(bahasa kerennya bray) kami mengobrol tentang lensa manual yah kita tahu lah apa yang menjadi topik para lelaki ketika mengobrol, Yap benar "Hobby Mereka" hahaha. dan terlelaplah kita dalam keletihan di kereta. Ini pengalaman pertama saya naik kereta, Hatur nuhun Kang Ujang Ubed sudah memfasilitasi saya dan membantu membelikan tiket kereta. Tertidur dan masuk ke dunia mimpi yang dipenuhi Bokeh.........!!!!!! (Bokeh = Out of focus pada bidang foto).


Tidur Dalam Bokeh : Minolta Rokkor 58mm f1.4

        Plok-plok, dik permisi. Suara sayup-sayup seorang perempuan terdengar ditelinga, dan saya terbangun dari tidur yang sangat nyaman ini. Sambil membuka mata, ternyata ibu hamil yang membangunkan saya dan mengatakan bahwa kami salah gerbong dan tempat duduk. Alamak malunya bukan main. Karena beliau hamil dan sudah pasti mengandung itu sangat berat dan melelahkan, saya bangunkan Kang Ujang untuk mengatakan bahwa kita salah gerbong dan berbondong-bondong untuk pindah ke gerbong 1. Sampai di tempat kami yang seharuskan alangkah kagetnya ternyata tempat tersebut sempit dan sangat tidak nyaman, anda bisa bayangkan kaki kami dengan kaki penumpang lain didepan kami saling mepet dan berbenturan. Wah ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Luar biasa, meniru ucapan "Mario Teguh" dalam hati, gumam saya.
         Gerbong yang tidak nyaman membuat susah untuk beristirahat. Untungnya saya membawa headset "Senheiser" besutan german, maaf bukan iklan tapi saya memang penggila produk german disamping lensa carl zeiss yang melegenda. Nyalakan MP3 player dan saya memaksakan untuk tidur. Terbangun di pagi hari jam 06.10 WIB saya terkaget-kaget karena di tiket tertera jam sampai di semarang adalah 05.50 WIB bergegas saya bangunkan Kang Ujang, "Kang kita udah lewat dari Semarang dan kereta belum berenti!!!!" . Kang Ujang yang notabena tertidur lelap langsung kalang kabut melihat sekitar. Saya teringat HP nokia C6 saya ada GPS. langsung nyalakan GPS dan mencari mode lokasi. Alhasil mengelus dada merasa lega karena Stasiun Semarang Tawang belum lewat, masih 5km lagi. Sesampainya di stasiun semarang kami di jemput oleh om Imam Santoso, sambutan yang luar biasa dari LM regional Semarang (SEMAR), trims Om. Meskipun di pagi itu ada murid sekolah yang naik motor dengan sembrono hampir menabrak mobil om Imam, namun ketika mengerem mendadak dengan keadaan lalu lintas demikian tidak terelakkan juga lampu stop belakang mobil Avanza om Imam tertabrak juga. Kami di Drop di Kuil Sanpokong dan menyeruput kopi panas sebelah barat Kuil yang berdekatan dengan SD.

"Yang kita cari hanya sesuatu yang membuat merasa Nyaman : Segelas Kopi"
        Registrasi peserta untuk Ulang Tahun Lensa Manual yang kelima beres, semua peserta memasuki Kuil untuk mengikuti acara selanjutnya yang telah di jadwalkan. Luar biasa kuil ini kuil bersejarah yang sudah berada ribuan tahun lalu, namun baru selesai di renovasi yang kesan magis dan kesan kononya hilang, namun kemegahannya masih tetap terjaga. Beberapa Foto Liputan di bawah ini saya jepret menggunakan beberapa Lensa Manual dan Kamera Sony NEX5N. Bila ada foto yang Blur dan tidak focus mohon di maklumi karena hal tersebut memang sengaja adanya, dan bila ada nama yang sama hanyalah sebuah kebetulan Semata.
Takumar 28mm f3.5

Acara pembukaan di mulai dengan ?? Yang pasti menyantap jajanan yang disediakan panitia. hehehehhe. Kidding. Let see the Barong Sai performance. Pada hari itu saya bertemu dan berbincang dengan kawan dari Bali bli Bayu Adnyana, dan dari makasar (LEMAK) ada om Eko om Paijo

Barong Sai....

Para Peserta lagi santai

           Setelah sesi di Sanpokong berakhir semua peseta di ajak menuju Kota Tua dengan menggunakan Bus, keren ga? yah keren ketimbang jalan kaki bro, hahhaha. Singkat cerita karena bus melaju kencang di jalan raya "40km/jam" sampailah kami di Kota Tua. Ini kota yang saya kunjungi tahun 2007 ketika menjadi fungsionaris Himpunan Mahasiswa Mesin Udayana dan makan di salah satu restoran yang nampak terlihat tidak asing. Kami di Drop dan di bagi per Group. Saya satu Group dengan Om yohanes yang sangat welcome menyambut dan menemani saya sepanjang jalan dan Lomba rally foto ini. Luar biasa, Semarang kau masih menyimpan cerita di sudut kotamu.

Om Yohanes
         Di Kota tua ini banyak sekali bangunan yang sudah berumur lumayan tua dan memang masih di pertahankan keasliannya. Banyak juga mural-mural bertemakan sosial yang ada pada dinding bangunan. Entah itu berupa keluh kesah, isi hati, acuan hingga cercaan. Yah semua daerah punya masalah sosialnya masing-masing.




"Ketika Foto Mewakili Lebih dari Rentetan Kata............................."

         
         Banyak gambar yang saya abadikan di Semarang, kota luar biasa yang punya ciri khasnya sendiri. dan saya merasa bersyukur bisa menginjakkan kaki saya di sini.

Penghobi Sepeda Onthel


Sisi Lain Kota Tua


Pabrik Rokok Praoe Lajar

       Setelah rally foto berakhir kami kembali ke alun-alun kota tua untuk mendapatkan konsumsi nasi kotak yang sangat lezat sekali. Luar biasa sekali acara ini dengan diiringi panasnya siang dan seteguk Air mineral. Acara di lanjutkan dengan foto-foto di Alun-alun kota, saya bertemu Om Nick dengan Lensa Soligor 135mm nya yang membahana, Mbak Mira, om Iwa, Om Abdul Salam, Om Hartono, Om Aldo dkk. Dari kota tua kami menuju ke Asrama Haji untuk beristirahat dan melanjutkan acara malamnya yakni ramah tamah dan pengumuman pemenang serta mengenang almarhum mendiang anak om ARB.

Acara ramah tamah kembali di suguhi makanan prasmana dan es sebagai dessert. Luar biasa panitia SEMAR sangat mantap sekali suguhannya malam itu. Dan saya pun kekenyangan, hahhaha. Sampai pada puncak acara yakni pengumuman pemenang lomba. Tanpa saya pernah berpikir untuk memenangkan lomba tersebut hanya ikut memeriahkan. Dan pemenang Ke-3 ternyata adalah karya foto saya sendiri. Alangkah senangnya, dan mendapatkan hadiah Tas Special ULTAH LM. Dan hadiah tersebut saya hibahkan ke Ibu Negara sebagai ucapan trimakasih atas ijinnya.

Veteran Riwayatmu Kini..


Namun di sela-sela hingat bingar acara Ultah, saya dan kang ujang belum mendapatkan tiket kereta maupun bus untuk kembali kebandung. Hhahahah entah harus menggunakan apa balik ke bandung sedangkan Hari senin saya harus kuliah lagi di gedung Pasca ITB. Beruntung kang ujang memang banyak chanel, Beliau akhirnya mendapatkan tumpangan dengan patungan biaya bersama om Iwa , Om Hartono, Om Jono dan Om Abdul Salam. Trims om saya ucapkan terimakasih atas Bantuannya. Dan sebelum balik menuju Jawa Barat Kami meluncur ke Dieng. Cerita ke dieng akan saya bahas di: Perjalan ke Dieng

Adapun Rincian Pengeluaran Travelling saya dari Bandung Ke Semarang :
  1. Diantar kawan kost an ke Stasiun Bandung : Gratis , Mksi mas nunuk bantuannya
  2. Beli camilan roti, Nu te, Air mineral permen di Circle - K dekat stasiun : Rp 16.500.
  3. Tiket Kereta Harina (Bandung - Semarang Tawang) : Rp 240.000,-
  4. Makan malam , Baju peserta, Tiket masuk kuil sanpokong penginapan Asrama Haji Manyaran Semarang : Rp. 200.000,-
  5. Belanja Kopi, Sampo dan Sabun : Rp. 7.500,-. Ongkos Travel kembali ke bandung (free lewat Dataran Tinggi Dieng) ; Rp 100.000,-
  6. Makan Selama Perjalan Pulang Dieng Bandung : Rp 75.000,-

Total pengeluaran = Rp 639.000

Sekian perjalanan backpacker saya ke semarang dari bandung. 


Semarang, Kotamu sungguh luar biasa, sampai bertemu lagi di kemudian hari, ku harap wajah kotamu masih seperti dulu ketika aku pertama kali mengenalmu........

Salam...
Marlon Managi




Tuesday, 19 August 2014

Program Editing Photoscape

Saya coba share sedikit yang saya tau tentang editing foto, Memang terkadang kendala kita adalah programing editing foto yang lumayan rumit dan tidak user friendly untuk kebanyakan orang. Disamping spesifikasi komputer kita yang terbatas yang tidak bisa menjalankan program dengan visual yang tinggi. Berdasarkan kendala tersebut saya akan mencoba share cara editing video sederhana.

Mari kita langsung ke langkah-langkan editing. Hal yang perlu anda siapkan adalah :
1. Laptop/ PC dengan spesifikasi standar saja.
2. Aplikasi Photoscape, jika tidak punya bisa download disini (DOWNLOAD)
3. Setelah download buka aplikasi tersebut.
Anda sudah selesai mempersiapkan bahan-bahanya.Kini ke langkah untuk editing foto

Kini siapkan foto yang akan di edit, pada contoh ini saya menggunakan foto milih saya

1. Foto sample



2. Klik kanan pada foto sample, dan pilih "Open With = Photoscape" atau anda buka Photoscape kemudian drag foto yang akan di edit ke photoscape. Maka akan terlihat tampilan seperti di bawah ini.:

3. Untuk editing foto silahkan ikuti langkah berikut :
a. Resize foto anda ke sisi terpanjang 900px (panjang sisi terpanjang tergantung selera anda) saya sarankan jika akan di upload di media sosial ada baiknya menggunakan 900px jadi gambar tidak terlalu di kompress ketika di upload.
b. Pada gambar di bawah pada no.2 dilihat ukuran gambar ukuran foto yang akan berubah jika sudah di rezise.
c. Kemudian klik "Auto Level" dapat dilihat pada no.3 di gambar di bawah, untuk memperbaiki white balance dan pencahayaan foto.
d. Jika dirasa sudah cukup bisa Klik "Save"






 


4. Namun jika anda ingin menghilangkan bagian gambar yang merasa mengganggu bisa di lanjutkan dengan langkah sebagai berikut.
a. Klik 'Tools" pada kolom navigasi di sebelah kiri bawah (lihat gambar).
b. Klik "Clone Stamp" yang terlihat pada langka no.5 di gambar di bawah.
c. Klik bagian yang menjadi Acuan warna anda (lihat langkah no.6).
d. Arahkan Pada bagian yang akan di hilangkan (lihat langkah no.7).
e. Maka anda akan melihat bagian yang ter clone (lihat langkah no.8)
f. Save kembali hasil kerja anda. 



Selamat Mencoba, Semoga Sukses

Friday, 8 August 2014

Tebing Keraton Bandung , Dago (Patahan Lembang) Bandung

Yah Tebing Keraton, tempat yang sedang booming ini di banjiri pengunjung. Lokasinya sebenarnya hanya sedikit tapi memang pemandangannya enak sekali disini.

Akan menjadi pertanyaan klasik apa yang ada disini? mungkin jawabannya adalah pemandangan yang mirip scene squel Avatar yang berada di tebing-tebing perbukitan layaknya di china. Untuk masuk tempat ini anda di haruskan membayar Rp 11.000 dan parkir motor sebesar Rp 5.000,- (Yang rumornya baru berlaku Sabtu ini 09 Agustus 2014)

Tiket Masuk (Foto By : Kang Ujang Ubed Hidayat)
Adapun Rute untuk mencapai tebing keraton ini :
  1. Gunakan Patokan Simpang Dago MC.D
  2. Naik ke arah atas ke arah terminal dago sampai ketemu terminal dago.
  3. Dari terminal dago terus lurus ke atas hingga menemukan indomaret kiri jalan, pelan-pelan, ada jalan kecil ke arah kiri menuju Tahura Dago.
  4. Masuk ke arah Tahura Dago, setelah sampai di pintu gabura tahura dago trus bablas 10m lagi dan akan ada persimpangan, ambil arah ke kanan.
  5. Setelah arah kekanan anda akan menemukan jalan yang di kiri kanan terdapat rumah besar ikuti jalan berbatu ini sepanjang kurang lebih 6km.
  6. Kurang lebih setelah 6km anda akan menemukan parkiran motor dan mobil itulah parkiran tebing keraton.
  7. Untuk Tiket masuk per orang dikenakan 11rb dan parkir motor 5rb. Turis asing 76rb


Suasana Parkiran
 
 Setelah berjalan sekitar 200m dari pintu masuk anda akan langsung di suguhkan pemandangan tebing yang sedap di pandang.

Tebing Keraton

Sebenarnya lokasi tebing ini terletak tebat di atas TAHURA DAGO (taman hutan rakyat). Untuk mencapai tempat ini dari terminal dago ambil arah menuju taman hutan rakyat hingga sampai di pintu masuknya, kemudia terus naik sedikit lagi ada persimpangan (pertigaan) belok kanan, ikuti jalan tersebut kurang lebih sekitar 5km dengan kondisi jalan terjal berbatu. Selama perjalanan anda akan menemukan banyak jalan bercabang jangan berbelok lurus saja maka anda akan sampai di tempat ini.

Pemandangan arah timur

Sabtu ini saya ke lokasi bersama 5 orang kawan saya, Kang dody sukmana tirta bersama adiknya, Kang nopan maulana bersama pacarnya, Bang Rahman Faisal , dan saya sendiri. Kami berangkat 04.30 WIB sampai di lokasi sekitar 06.00 WIB. dan sempat melihat matahari terbit disana.

Sunrise di Tebing Keraton

Hanya dengan memandang ke arah timur anda dengan mudah memperoleh pemandangan sunrise dari atas bukit dengan pemandangan yg luar biasa.  Sabtu ini pengunjung bisa dikatakan lumayan ramai hingga tebing yang  sempit tersebut penuh sesak oleh pengunjung yang kebanyakan dari jakarta.
Kang Nopan dan Kang Tirta
Bang Faisal


Pengunjung



Ternyata boomingnya tebing keraton di media massa akhir-akhir ini membawa pengunjung yang tidak sedikit bahkan penuh sesak. Yang di takutkan para fotografer Wild Life adalah karena saking banyaknya pengunjung ini habitat burung alap-alap sapi di tempat ini menjadi terganggu. Namun apa boleh buat Pariwisata selalu bermata dua. Di satu sisi menggerakkan roda perekonomian rakyat di satu sisi ada dampak negatif lain seperti sampah.

Tong Sampah
Saat di atas ada seorang anak yang berusia mungkin sekitar 18thn dan merokok setelah merokok dia bahkan tidak mematikan puntung rokoknya sebelum membuangnya ke tong sampah. Sebuah kebiasaan yang kurang baik. Dan saya harus mematikan puntung rokkoknya yang notabene saya bukan perokok

Akhir cerita sekianlah cerita perjalanan saya menjelajah Tebing Keraton yang Fenomenal di Instagram dan tanpa lupa kita Selfie dulu sebelum pulang sebagai bukti sudah disana hahahha
It's Me

Tunggangan ane

Sunday, 25 May 2014

SOLAR HOME SYSTEM IN KUBU VILLAGE, KARANGASEM BALI

SOLAR HOME SYSTEM IN KUBU VILLAGE, KARANGASEM BALI


I. INTRODUCTION

        Energy supply in the future is a problem that attracts attention of all nations, because human welfare in modern life is closely related to the amount and quality of energy used. The global energy consumption is likely to grow faster than the population growth. The fuel consumption was growing from 6630 million tons of oil equivalents (Mtoe) in 1980 to almost double reaching 11,163 Mtoe in 2009. This projected consumption will increase 1.5% per year until 2030 and will reach 16,900 Mtoe and the main drivers of this growth are developing countries in Asia.
        The energy consumption is mainly based on fossil fuels which account for 88.1% whereby with crude oil consisting of 34.8%, coal 29.2% and natural gas 24.1%. However the share of nuclear energy and hydroelectricity are very small with only 5.5% and 6.4% respectively. At current production rates, global proven reserves for crude oil and natural gas are estimated to last for 41.8 and 60.3 years respectively. Furthermore, the fossil fuels will significantly contribute to the emission of greenhouse gases (GHG) from the combustion and raising the climate change issue. Thus, the new and renewable energies will become one of the main energy sources for the world. Currently, renewable energy contributes only 11% of the total global energy used.


II.  SOLAR CELL AND GLOBAL POLICIES

Why solar energy we choose as a renewable energy, because Solar energy is the most promising backup energy as it has many advantages over other resources. Solar energy is a naturally available and clean energy source derived from the sun that can be exploited directly to generate electricity. No release of pollutant, low maintenance and high reliability, with life span expectation of 20–30 years made solar power a favorable source of energy to be used in the future. Policies already released to support  reducing emission in the world. A variety of policies like feed-in-tariff (FIT), portfolio standard (RPS), tax credits, pricing laws, production incentives, quota requirements, trading systems etc. have been developed and implemented to promote the use of renewable energy (RE) .These strategies have main objective such as reducing the environmental impacts of the energy sector, reducing reliance on fossil fuels and encouraging new industrial development. Yet the renewable portfolio standard (RPS) and the feed-in tariff (FIT) are the most popular. Though there exist a lot of debates surround their effectiveness, expecting a choice that has to be made between them. For this, it could be decided by the countries that which Renewable Energy policy can be applicable in their own particular circumstances and objectives. According to Ekins “No optimal model has emerged, and probably none will do so in the contexts that is shaped by different histories and cultures”.



III. RURAL AREA IN EAST BALI ISLAND

Rural area is defined as a region, which is not urbanized. One of the main characteristics of rural area is its low population density is one of the common highlights of rural areas. Normally high portions of the lands in rural areas are devoted to agricul- ture. On the other hand, there are vast arid regions around the world that are also considered as rural areas. Therefore, there is no unique definition of the rural area that can be applied to all regions in the world and it can be variable from each country to another. However, the most critical aspect in the rural area rather than low population density is less access to energy sources, lack of education, health, and welfares. Increasing access to affordable and reliable energy services is an approach to reduce the energy poverty in these regions. For this case we consider the rural are as describe below

Location : Ban Village, Kubutambahan District, Karangasem Regency
Koordinate :
-       Latitude      :  - 8.276387
-       Longitude   : 115.484748

Map of Bali Island
We have several reasons why we choose solar sell energy system in this area :
  •   Rural area
  • Water is quite hard ( water resources in this area small, not enough to use micro hydro
  • Location in behind Mountain (Mountain Agung) which is quite hard to install wind turbine because the velocity average in this area is low.



An alternative we can applied in this area is Solar Home System, because the distance between one house to the other house is quite far. They replace kerosene lamps and candles traditionally used for lighting. Typically, a rural family will spend between $5-$10 per month on energy and lighting expenses. Furthermore, fumes produced from traditional lighting methods are toxic and lead to chronic lung problems, especially when children are exposed. Generally, a family will use about 3 liters of kerosene per month. Using these dimmer sources of light for studying or handicraft production can strain the eyes and cause long-term vision problems. Having a solar system will allow children to study and small businesses to continue production later into the night. This increases the population’s ability to be self-sufficient, raises their incomes, and allows them to begin to lift themselves out of poverty.



IV. SOLAR  HOME  SYSTEM TECHNOLOGY

        A solar-home-system uses a photovoltaic (solar-electric) module to provide power for lights and small appliances. The system also needs a rechargeable battery, so that power is still available at night and on cloudy days. Solar-home-systems bring huge benefits to homes in developing countries which aren’t connected to the mains electricity grid. They replace smoky, unsafe kerosene lamps with brighter light, allowing work, study and social activities after dark. They also power radios and cell phone chargers, enabling families to be in contact with the wider world. The smallest systems are solar lanterns, which can be moved around the home or carried outdoors.
      Solar-home-systems and solar lanterns already provide power to millions of homes in Asia, Africa and Latin America. Similar systems are also used in off-grid schools and health centers. How a solar-home-system works  Photovoltaic (PV) modules use semiconductor materials to generate d.c. electricity from sunlight. A large area is needed to collect as much sunlight as possible, so the semiconductor is either made into thin, flat, crystalline cells, or deposited as a very thin continuous layer onto a support material. The semiconductor must be sealed into a weatherproof casing, with suitable electrical connectors.

       PV modules are specified by their ‘watt-peak’ (Wp) rating, which is the power generated under standard conditions, equivalent to bright sun in the tropics (they still work at lower light levels though). Most solar-home-systems use modules between about 10 Wp and 100 Wp rating. The rechargeable batteries store spare electricity on sunny days, so that it is available at night and on cloudy days. They also provide a stable voltage (usually 12 V) for the devices which use the electricity. Standard lead-acid car batteries can be used, but they don’t last long if they are heavily discharged, so specially-made solar versions are strongly recommended. Other types of rechargeable battery like nickel-cadmium and nickel-metal-hydride are increasingly used, particularly in small systems like solar lanterns. They are more expensive, but easier to make small and portable, and more tolerant of being heavily discharged. All equipment run directly from the PV supply must be designed for 12 V d.c. operation. Efficient lights and appliances make best use of the limited supply of electricity.
        Efficient d.c. fluorescent lights are available down to about 3 or 4 W power rating, in both tube and compact forms. LED lights are even more efficient, and are now sufficiently cheap and reliable to be used as well. In most systems, an electronic charge-controller is used to protect the battery from being overcharged (when it is very sunny) or over-discharged (when people try to get too much electricity from the system). The charge controller usually has lights or a meter to indicate the state-of-charge of the battery.

How To Use M42 (Screw Mount) Lenses in Digital Camera

M42 screw mount was first used in ZeissContax S of 1949; this East German branch of Zeiss.  M42 × 1 mm standard mount cameras first became well known in Japan under the Praktica brand, and thus the M42 mount is known as the Praktica thread mount there. Since there were no proprietary elements to the M42 mount, many other manufacturers used it; this has led to it being called theUniversal thread mount or Universal screw mount by many.

Example of Screw mount


Very easy to use M42 screw mount in digital cameras (interchange lens type). Just use adapter, you can buy thoses adapters in your local store or online shop. Depend on camera you use. Here some i write the list of adapter which is available in store for you digital camera. 


  1. M42 to Canon EOS  => available with or without Chip AF confirm. AF confirm will allow you to activated the "Beep" sound, you still use your hand to turn down the focusing ring (no motor drive in manual lens) 
    M42 to EOS non-Chip




      M42 to Eos with Chip


  2. M42 to Nikon => will not be able to allow you capture until infinity focus, in many case only 2m. It happened because flanger register of nikon is longer than m42 screw mount. To make the camera can focus infinity you would need an adapter with optic correction which is reduce the image quality.
  3. M42 to Micro 4/3 => micro 4/3 (crop factor 2) very easy to adapt this kind of lens just buy adapter M42 to M4/3.
  4. M42 to Sony Alpha Mount => same as canon, sony alpha which is "A" mount adapt M42 mount is not a big deal.
    M42 to M4/3

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More